Gaya Hidup dan Kesehatan Mental: Pandangan Psikologi tentang Keseimbangan Hidup Modern
Yogyakarta, 5 November 2025 — Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, para ahli psikologi menyoroti pentingnya gaya hidup (lifestyle) yang seimbang untuk menjaga kesehatan mental dan kebahagiaan individu. Pola hidup seseorang, menurut para psikolog, bukan hanya soal rutinitas harian, tetapi cerminan dari nilai, motivasi, dan keseimbangan batin.
Dr. Anindya Prameswari, psikolog dari Universitas Gadjah Mada, menjelaskan bahwa gaya hidup terbentuk dari kombinasi antara kebiasaan, minat, dan cara seseorang mengelola waktu serta emosi.
“Lifestyle tidak sekadar pilihan pakaian atau makanan, tetapi bagaimana seseorang mengatur kehidupannya agar tetap bermakna dan sehat secara mental,” ujarnya dalam seminar nasional bertajuk “Healthy Mind, Healthy Lifestyle” di Yogyakarta, Rabu (5/11).
Menurut teori psikologi positif yang dikembangkan oleh Martin Seligman, gaya hidup bahagia (well-being lifestyle) mencakup lima aspek penting: positive emotion, engagement, relationships, meaning, dan accomplishment (PERMA). Individu yang mampu menjaga kelima aspek tersebut cenderung lebih tahan terhadap stres dan lebih produktif dalam aktivitasnya.
Psikolog klinis Ratri Nugroho, M.Psi., menambahkan bahwa tren gaya hidup digital saat ini sering kali membuat banyak orang kehilangan keseimbangan antara dunia nyata dan virtual.
“Fenomena doom scrolling, tidur larut karena media sosial, atau kecanduan produktivitas adalah bentuk gaya hidup modern yang bisa berujung pada kelelahan mental (burnout),” jelasnya.
Ratri menekankan bahwa self-care harus dipahami bukan sebagai kemewahan, tetapi kebutuhan dasar manusia. Aktivitas sederhana seperti berjalan kaki di pagi hari, membaca buku favorit, atau mengurangi konsumsi media sosial dapat membantu menjaga kestabilan psikologis.
Dalam perspektif psikologi kognitif, gaya hidup yang sehat terbentuk melalui kesadaran (awareness) dan konsistensi (consistency). Artinya, seseorang perlu mengenali pola pikirnya sendiri, lalu membangun rutinitas positif secara berulang hingga menjadi kebiasaan baru.
“Perubahan gaya hidup bukan proses instan. Diperlukan niat, dukungan sosial, dan penguatan diri yang berkelanjutan,” ungkap Dr. Anindya.
Sementara itu, survei yang dilakukan oleh Indonesian Psychological Wellbeing Center (IPWC) pada 2025 menunjukkan bahwa 63% responden mengaku kualitas hidupnya meningkat setelah menerapkan pola hidup teratur, seperti olahraga ringan, tidur cukup, dan mengurangi konsumsi gawai.
Ahli psikologi sosial menilai bahwa gaya hidup juga berkaitan dengan identitas dan hubungan sosial. Gaya hidup yang terlalu kompetitif sering menimbulkan kecemasan sosial, sedangkan gaya hidup sederhana dengan koneksi sosial kuat justru menumbuhkan rasa bahagia.
Pada akhirnya, para ahli sepakat bahwa lifestyle yang sehat menurut psikologi adalah gaya hidup yang seimbang secara emosional, sosial, dan spiritual.
Hidup bukan hanya tentang bekerja keras atau mengejar pencapaian, tetapi juga tentang merawat diri, menghargai waktu, dan menikmati makna di balik setiap aktivitas.


1 comment