Self-Actualizing Tendency: Dorongan buat jadi versi terbaik! Ini 5 cara mendapatkannya!
Beberapa peneliti psikologi humanistik menemukan bahwa manusia secara alami punya kebutuhan untuk tumbuh dan berkembang, asal diberi lingkungan yang mendukung.
Penelitian yang dilakukan oleh M. M. Maurer (2020) menjelaskan bahwa konsep dari Carl Rogers, seorang psikolog humanistik terkenal, masih sangat relevan sampai sekarang.
Ia bilang, setiap orang punya proses alami di dalam dirinya. Biasa disebut organismic valuing process yang seringkali membantu kita menilai mana hal yang membuat kita berkembang dan mana yang malah menjauhkan kita dari kebahagiaan sejati.
Penelitian lain dari Scott Barry Kaufman (2018) juga menemukan bahwa orang-orang yang terus berusaha memahami diri dan hidup selaras dengan nilai yang mereka yakini, cenderung lebih bahagia, lebih kreatif, dan lebih bermakna hidupnya.
Artinya, self-actualizing tendency bukan cuma teori lama, tapi juga terbukti berdampak pada kesehatan mental dan kualitas hidup kita.
💭 Yuukk kita refleksi bareng-bareng
Coba deh lihat sekelilingmu.
Mungkin kamu punya teman yang dulunya pemalu banget, tapi sekarang berani tampil dan percaya diri.
Atau seseorang yang dulu hidupnya cuma “ikut arus”, tapi sekarang mulai tahu apa yang ia mau, apa yang penting buat hidupnya, dan pelan-pelan memperjuangkannya.
Itulah contoh nyata dari proses aktualisasi diri.
Proses ini nggak terjadi semalam, dan nggak selalu mudah.
Kadang kita harus melewati fase bingung, kecewa, bahkan kehilangan. Tapi di tengah proses itu, kita mulai mengenal diri kita yang sebenarnya.
Karena tumbuh bukan berarti jadi sempurna, tapi berani jujur dengan diri sendiri. 🌻
🧠 Apa Itu Self-Actualizing Tendency?
Secara sederhana, self-actualizing tendency adalah dorongan alami dalam diri setiap manusia untuk tumbuh, berkembang, dan menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri.
Konsep ini dikembangkan oleh dua tokoh besar dalam psikologi humanistik:
- Carl Rogers
Rogers percaya bahwa semua manusia punya potensi untuk tumbuh.
Tapi pertumbuhan itu hanya bisa terjadi kalau kita hidup dalam lingkungan yang penuh penerimaan, empati, dan kejujuran.
Ia menyebut proses ini sebagai actualizing tendency — dorongan alami untuk mempertahankan dan mengembangkan diri. - Abraham Maslow
Maslow menyusun teori tentang hierarki kebutuhan manusia, dan di puncaknya ada “aktualisasi diri”.
Menurut Maslow, setelah kebutuhan dasar (seperti makan, aman, dicintai) terpenuhi, manusia akan mulai mencari makna hidup dan jati diri.
Orang yang sudah sampai tahap ini biasanya punya ciri: kreatif, rendah hati, autentik, dan hidup sesuai nilai yang diyakininya.
🌿 Mengapa Penting?
Kalau kamu merasa hidupmu “hampa” meski semuanya terlihat baik-baik aja — mungkin karena dorongan alami untuk tumbuh itu belum kamu ikuti sepenuhnya.
Self-actualizing tendency ini penting karena:
- Membantu kita lebih sadar akan diri sendiri.
- Bikin kita hidup lebih selaras dengan nilai pribadi, bukan sekadar mengikuti ekspektasi orang.
- Menumbuhkan rasa puas dan bermakna, karena kita tahu hidup kita punya arah.
Penelitian juga menunjukkan bahwa orang yang hidup sesuai potensi dirinya punya tingkat stres lebih rendah dan lebih bahagia secara psikologis (Kaufman, 2018).
🌻 Bagaimana Cara Menumbuhkan Dorongan Ini?
Nggak perlu hal besar. Proses aktualisasi diri bisa dimulai dari langkah kecil, seperti:
- Kenali diri sendiri.
Luangkan waktu untuk refleksi — apa yang kamu rasakan, butuhkan, dan yakini? - Berani jujur.
Jangan pura-pura kuat kalau kamu lelah. Kejujuran pada diri sendiri itu pintu awal untuk sembuh. - Lingkungan yang mendukung.
Cari teman, keluarga, atau komunitas yang menerima kamu tanpa menghakimi. - Terus belajar dan terbuka pada pengalaman baru.
Kadang, kita tumbuh dari hal-hal kecil yang nggak kita duga. - Terima prosesnya.
Nggak apa-apa kalau belum “jadi” sekarang. Yang penting, kamu terus berjalan.
✨ Kesimpulan
Setiap manusia punya kekuatan alami untuk tumbuh dan menjadi lebih baik.
Dorongan itu sudah ada di dalam diri kita sejak awal — hanya saja, kadang tertutup oleh ketakutan, trauma, atau ekspektasi orang lain.
Tugas kita bukan menciptakan versi terbaik dari nol, tapi menemukannya lagi.
Seperti biji tanaman yang sudah punya potensi untuk jadi pohon besar — dia hanya butuh cahaya, air, dan waktu.
Jadi kalau hari ini kamu sedang berproses, pelan tapi pasti, kamu sedang menjalankan self-actualizing tendency itu sendiri. 🌱
📚 Referensi:
- Maurer, M. M. (2020). Revisiting the Organismic Valuing Process Theory of Carl Rogers. PMC.
- Kaufman, S. B. (2018). Self-Actualizing People in the 21st Century. The Journal of Humanistic Psychology.
- Rogers, C. R. (1961). On Becoming a Person: A Therapist’s View of Psychotherapy. Boston: Houghton Mifflin.
- Maslow, A. H. (1954). Motivation and Personality. New York: Harper & Row


Post Comment