Sekolah Bukan Cuma Soal Nilai: Begini Cara Guru Zaman Now Bangun Karakter Siswa

Di tengah derasnya arus digitalisasi, sejumlah sekolah di Indonesia mulai memperkuat kembali pendidikan karakter sebagai pondasi utama pembentukan generasi muda. Para pakar pendidikan menilai, kemajuan teknologi tanpa penguatan nilai moral dapat melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, namun miskin empati dan etika.

Dr. Husna Nashihin, pakar pendidikan Islam dari INISNU Temanggung, menyampaikan bahwa transformasi digital dalam dunia pendidikan seharusnya diimbangi dengan pendekatan humanis.

“Teknologi memang mempercepat proses belajar, tetapi karakterlah yang menentukan arah penggunaan teknologi itu. Tanpa nilai-nilai moral, kecerdasan digital bisa menjadi bumerang,” ujarnya dalam Seminar Nasional “Revolusi Pendidikan Karakter di Era 5.0” di Yogyakarta, Rabu (5/11).

Menurutnya, pendidikan karakter tidak lagi bisa diserahkan sepenuhnya kepada guru agama atau bimbingan konseling, melainkan harus diintegrasikan dalam semua mata pelajaran. Guru matematika, bahasa, maupun sains, dapat menanamkan nilai disiplin, kerja keras, dan kejujuran dalam pembelajarannya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan menegaskan bahwa kebijakan kurikulum merdeka belajar memberi ruang lebih luas bagi sekolah untuk membangun budaya positif di lingkungan belajar.

“Kami dorong sekolah-sekolah mengembangkan program character-based learning melalui proyek-proyek sosial dan pembelajaran berbasis nilai,” jelasnya.

Beberapa sekolah di Yogyakarta bahkan telah menerapkan program inovatif, seperti “Kelas Empati Digital”, di mana siswa diajak memahami dampak sosial dari perilaku daring. Program ini melatih peserta didik untuk berpikir kritis terhadap konten media sosial dan mengembangkan etika digital.

Psikolog pendidikan Ratri Rahmawati, M.Psi., menjelaskan bahwa anak-anak zaman sekarang tidak cukup hanya diajarkan pengetahuan kognitif. Mereka memerlukan pendidikan emosi dan sosial agar mampu beradaptasi dalam lingkungan yang kompleks.

“Kecerdasan emosional berperan besar dalam keberhasilan seseorang di masa depan. Guru perlu menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan penuh empati,” katanya.

Hasil survei Lembaga Riset Pendidikan Nasional (LRPN) tahun 2025 menunjukkan bahwa 72% siswa yang mengikuti program pendidikan karakter terintegrasi menunjukkan peningkatan dalam aspek empati, tanggung jawab, dan kerja sama kelompok.

Para ahli menilai, pendidikan karakter tidak berarti kembali ke pola lama, tetapi menyesuaikan dengan konteks zaman. Di era digital, karakter juga berarti bijak bermedia, mampu mengelola stres, dan menjaga integritas akademik.

Sebagaimana ditegaskan oleh Dr. Husna,

“Pendidikan abad ke-21 bukan hanya tentang what to think, tetapi how to behave. Kita tidak sedang mencetak robot pintar, tetapi manusia beradab.”

Dengan arah baru ini, diharapkan dunia pendidikan Indonesia mampu mencetak generasi yang unggul dalam kompetensi, tangguh dalam moralitas, dan adaptif terhadap perubahan zaman.

Post Comment