Hidup Seperti Roda Berputar : Apakah Masih Relevan?

Suatu sore, aku melihat dua orang teman lama bertemu setelah bertahun-tahun tidak saling berkabar. Mereka berasal dari kampung yang sama, bersekolah di tempat yang sama, bahkan pernah duduk di bangku kelas yang sama. Salah satunya pernah menjadi primadona sekolah karena puluhan kali memenangkan berbagai macam perlombaan. Satu lainnya berperan sebagai tim sorak saat temannya menang.

Percakapan mereka mengalir seperti obrolan biasa. Hingga akhirnya terdengar satu kalimat yang keluar dari sang primadona sekolah.

“Ya mau bagaimana lagi… namanya juga nasib.” sambil merenungi nasibnya yang kini hanya kerja serabutan.

Kalimat itu membuat saya berpikir. Benarkah hidup seseorang hanya ditentukan oleh nasib?

Pertanyaan seperti ini mungkin juga pernah muncul dalam benak kita. Ketika melihat ada orang yang berhasil bangkit dari keterbatasan, sementara ada pula yang tetap terjebak pada keadaan masa lalu selama bertahun-tahun.

Di masyarakat, kita sering mendengar berbagai penjelasan. Ada yang mengatakan bahwa semua bergantung pada keberuntungan. Ada yang menyebut faktor keluarga. Ada pula yang menganggap bahwa hidup seseorang sepenuhnya telah ditentukan oleh takdir sehingga usaha tidak banyak mengubah apa pun.

Memang benar, sebagai seorang Muslim kita meyakini bahwa segala sesuatu terjadi atas izin Allah. Tidak ada satu pun yang luput dari kehendak-Nya.

Namun, apakah keyakinan itu berarti kita cukup menunggu perubahan datang?

Menurutku, Al-Qur’an justru mengajarkan sesuatu yang berbeda.

Allah berfirman,

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat ini menarik karena Allah tidak langsung berbicara tentang harta, jabatan, atau keadaan hidup seseorang. Allah terlebih dahulu berbicara tentang apa yang ada di dalam diri manusia.

Mengapa?

Karena sering kali akar dari perubahan bukanlah keadaan di luar, melainkan cara seseorang memandang dirinya, berpikir, lalu mengambil keputusan.

Ternyata, apa yang diajarkan Al-Qur’an ini juga ditemukan dalam dunia psikologi.

Apa Kata Psikologi tentang Perubahan Diri?

Menariknya, pesan yang terkandung dalam QS. Ar-Ra’d ayat 11 memiliki keselarasan dengan beberapa teori penting dalam psikologi modern. Meskipun psikologi tidak membahas dimensi ketuhanan sebagaimana Islam, para ilmuwan psikologi menemukan bahwa perubahan hidup sangat dipengaruhi oleh cara seseorang memandang dirinya dan bertindak terhadap lingkungannya.

1. Albert Bandura: Perubahan Berawal dari Keyakinan Diri (Self-Efficacy)

Psikolog Kanada-Amerika, Albert Bandura, memperkenalkan konsep self-efficacy, yaitu keyakinan seseorang terhadap kemampuannya untuk menyelesaikan tugas atau menghadapi tantangan tertentu (Bandura, 1977).

Menurut Bandura, orang yang memiliki self-efficacy tinggi akan:

  • lebih berani mencoba hal baru,
  • lebih gigih ketika menghadapi kegagalan,
  • memandang tantangan sebagai kesempatan belajar,
  • dan lebih mudah bangkit setelah mengalami hambatan.

Sebaliknya, seseorang yang tidak yakin terhadap kemampuannya cenderung menyerah bahkan sebelum benar-benar mencoba.

Bandura menjelaskan bahwa keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kemampuan yang dimiliki, tetapi juga oleh keyakinan bahwa kemampuan tersebut dapat digunakan secara efektif (Bandura, 1977).

Dalam perspektif Islam, keyakinan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar. Allah memerintahkan manusia untuk bergerak dan berusaha, sementara hasil akhirnya tetap berada dalam kehendak-Nya.


2. Julian Rotter: Siapa yang Mengendalikan Hidupmu?

Pada tahun 1966, Julian B. Rotter memperkenalkan konsep Locus of Control, yaitu keyakinan seseorang mengenai penyebab berbagai peristiwa dalam hidupnya (Rotter, 1966).

Rotter membaginya menjadi dua jenis.

Internal Locus of Control

Orang percaya bahwa usaha, keputusan, dan perilakunya memiliki pengaruh besar terhadap hasil yang diperoleh.

Mereka cenderung berkata: “Kalau aku belajar lebih giat, kemungkinan berhasil akan lebih besar.”

Sedangkan External Locus of Control adalah keyakinan bahwa hidup lebih banyak ditentukan oleh keberuntungan, nasib, keadaan, atau orang lain.

Misalnya: “Percuma berusaha. Memang nasibku seperti ini.”

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa individu dengan internal locus of control umumnya memiliki motivasi belajar yang lebih tinggi, lebih bertanggung jawab terhadap tindakannya, serta lebih mampu menghadapi tekanan hidup dibandingkan individu yang didominasi external locus of control (Rotter, 1966).

Konsep ini sejalan dengan pesan QS. Ar-Ra’d ayat 11 bahwa perubahan menuntut adanya tindakan aktif dari manusia. Islam mengajarkan bahwa manusia tidak diperintahkan mengendalikan hasil, tetapi diperintahkan mengendalikan usaha yang menjadi tanggung jawabnya.


3. Carol Dweck: Kemampuan Bukan Sesuatu yang Tetap

Psikolog dari Stanford University, Carol S. Dweck, memperkenalkan teori Mindset, khususnya konsep Growth Mindset (Dweck, 2006).

Menurut Dweck, terdapat dua pola pikir utama.

Fixed Mindset

Seseorang percaya bahwa kecerdasan, bakat, dan kemampuan merupakan sesuatu yang tetap sejak lahir.

Akibatnya, kegagalan dianggap sebagai bukti bahwa dirinya memang tidak mampu.

Sebaliknya, Growth Mindset adalah keyakinan bahwa kemampuan dapat berkembang melalui latihan, pengalaman, strategi belajar yang tepat, dan ketekunan.

Orang dengan growth mindset melihat kegagalan bukan sebagai akhir perjalanan, melainkan sebagai umpan balik untuk memperbaiki diri (Dweck, 2006).

Inilah sebabnya mereka lebih tahan menghadapi kesulitan dan lebih mudah berkembang.

Dalam Islam, prinsip ini sangat dekat dengan konsep mujahadah (bersungguh-sungguh dalam memperbaiki diri) dan istiqamah (konsisten dalam kebaikan). Seorang Muslim tidak dituntut langsung menjadi sempurna, tetapi terus memperbaiki diri sepanjang hidupnya.


Titik Temu Psikologi dan Islam

Ketiga teori tersebut menunjukkan satu kesimpulan yang sama.

Perubahan hidup bukan sekadar menunggu kesempatan datang, melainkan hasil dari perubahan cara berpikir, keyakinan terhadap kemampuan diri, dan tindakan nyata yang dilakukan secara konsisten.

Psikologi menjelaskan bagaimana manusia berubah.

Islam menjelaskan mengapa manusia harus berubah dan kepada siapa hasil akhirnya diserahkan.

Karena itu, ketika Al-Qur’an menyatakan bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka, pesan tersebut bukan hanya bernilai spiritual, tetapi juga selaras dengan temuan ilmiah psikologi modern mengenai proses perubahan perilaku manusia.


Referensi

Bandura, A. (1977). Self-efficacy: Toward a unifying theory of behavioral change. Psychological Review, 84(2), 191–215.

Bandura, A. (1986). Social foundations of thought and action: A social cognitive theory. Prentice-Hall.

Dweck, C. S. (2006). Mindset: The new psychology of success. Random House.

Rotter, J. B. (1966). Generalized expectancies for internal versus external control of reinforcement. Psychological Monographs, 80(1), 1–28.

Post Comment